Benteng Utama dari Syetan

*Benteng Terkuat Pelindung Dari Setan Terlaknat*

*BENTENG PERTAMA :*

*—IKHLAS—*

Ketika Iblis mengetahui bahwa sesungguhnya tidak ada jalan baginya untuk menggoda [Ahli Ikhlas] ( Orang2 yg ikhlas ), dia mengecualikan mereka dari persyaratan yang dia syaratkan di dalam menyesatkan dan membinasakan manusia.

Allah Ta’ala berfirman :

“Iblis menjawab: Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba2Mu yang mukhlis di antara mereka.” (Qs. Shaad : 82-83)

Allah Ta’ala berfirman tentang Ash-Shiddiq Nabi Yusuf alaihissalam :

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud ( melakukan perbuatan itu)  dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andai kata dia tidak melihat tanda (dari) RabbNya. ( yang dimaksud dg mukhlis ialah orang2 yg telah diberi taufiq untuk mentaati segala petunjuk dan perintah Allah Ta’ala). Demikian, agar Kami memalingkan daripada kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba2 kami yang mukhlis.” (Qs. Yusuf: 24)

Ayat ini tidaklah menunjukkan bahwa Nabi Yusuf alaihissalam punya keinginan yg buruk terhadap wanita itu ( zulaikha), akan tetapi godaan itu demikian besarnya, sehingga andaikata dia tidak dikuatkan dengan keimanan kepada Allah Ta’ala tentu dia jatuh ke dalam kemaksiatan.

Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam kitab Majmuu’ al Fataawaa (14/332-333): Sesungguhnya mengikhlaskan agama hanya untuk Allah itu dapat mencegah dari penguasaan setan dan dari pertemanan dengannya yg dapat menyebabkan adzab.

PENGERTIAN IKHLAS

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَ أَمْوَالِكُمْ وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Nabi Shallallahu ‘alihi wa sallam telah bersabda,”Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, juga tidak kepada harta kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian”.

Dalam mendefinisikan ikhlas, para ulama berbeda redaksi dalam menggambarkanya. Ada yang berpendapat, ikhlas adalah memurnikan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah mengesakan Allah dalam beribadah kepadaNya. Ada pula yang berpendapat, ikhlas adalah pembersihan dari pamrih kepada makhluk.

Al ‘Izz bin Abdis Salam berkata : “Ikhlas ialah, seorang mukallaf melaksanakan ketaatan semata-mata karena Allah. Dia tidak berharap pengagungan dan penghormatan manusia, dan tidak pula berharap manfaat dan menolak bahaya”.

Landasan niat yang ikhlas adalah memurnikan niat karena Allah semata. Setiap bagian dari perkara duniawi yang sudah mencemari amal kebaikan, sedikit atau banyak, dan apabila hati kita bergantung kepadanya, maka kemurniaan amal itu ternoda dan hilang keikhlasannya. Karena itu, orang yang jiwanya terkalahkan oleh perkara duniawi, mencari kedudukan dan popularitas, maka tindakan dan perilakunya mengacu pada sifat tersebut, sehingga ibadah yang ia lakukan tidak akan murni, seperti shalat, puasa, menuntut ilmu, berdakwah dan lainnya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin berpendapat, arti ikhlas karena Allah ialah, apabila seseorang melaksanakan ibadah yang tujuannya untuk taqarrub kepada Allah dan mencapai tempat kemuliaanNya.

Katakanlah:”Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya”. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al Kahfi : 103-104].[8]

Bila Anda melihat seseorang, yang menurut penglihatan Anda telah melakukan amalan Islam secara murni dan benar, bahkan boleh jadi dia juga beranggapan seperti itu. Tapi bila Anda tahu dan hanya Allah saja yang tahu, Anda mendapatkannya sebagai orang yang rakus terhadap dunia, dengan cara berkedok pakaian agama. Dia berbuat untuk dirinya sendiri agar dapat mengecoh orang lain, bahwa seakan-akan dia berbuat untuk Allah.

Ada lagi yang lain, yaitu beramal karena ingin disanjung, dipuji, ingin dikatakan sebagai orang yang baik, atau yang paling baik, atau terbetik dalam hatinya bahwa dia sajalah yang konsekwen terhadap Sunnah, sedangkan yang lainnya tidak.