Waspada Pengobatan Tradisional Uskun (Ustad Dukun)

Waspada Pengobatan Tradisional Uskun (Ustad Dukun)

Assalamu Alaikum, Wr. Wb.
Ustadz, saat ini saya dalam kebimbangan yang amat sangat. Saya pernah diisi tentang suatu ilmu dimana keyakinan bahwa tiada daya dan upaya melainkan pertolongan Allah, SWT merupakan syarat dari kekuatan ilmu tersebut. Selama ini ada beberapa orang yang telah saya terapi menggunakan ilmu tersebut. Awalnya saya amat yakin kalo ilmu tersebut sesuai syar’i karena selain tehnik penyembuhannya hanya menggunakan surah Al-fatihah sebanyak 21 kali dan dihembuskan ke air, juga dikatakan bahwa makin kurang ibadah kita (banyak melakukan dosa) dapat mengakibatkan keampuhan ilmu tersebut berkurang. Namun, setelah membaca tulisan2 ustad saya jadi bimbang…apakah ilmu yg saya terima itu salah ? mohon pertimbangannya ustad, saya sangat tidak ingin terjerumus dalam kesyirikan. terima kasih sebelumnya. Wassalam

Assalamu’alaikum wr.wb.

Mas, saya dulu juga sangat tertarik dengan dunia pengobatan alternative, ilmu ghaib dan sejenisnya. Tetapi keinginan tersebut tidak terealisasi seiring dengan bertambahnya pemahaman. Saya sengaja mempelajari ruqyah dan berinteraksi dengan ruqyah karena saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana akibat ilmu-ilmu gaib itu. Dan bahaya ilmu gaib itu, berulang kali saya temui pada para pasien ruqyah yang memiliki masa lalu pernah mempelajari ilmu gaib.

Alhamdulillah seiring berjalannya waktu saya mencoba mencari dan menambah pemahamnya saya terhadap syariat, hadist2 dan masalah2 aqidah. hingga akhirnya saya berkesimpulan bahwa kemampuan supranatural sangat dekat dg bantuan jin. jin2 itu sebagaimana leluhurnya, iblis, tidak mungkin mengajak kita utk menyembah berhala, pergi kekuburan atau ke dukun. mereka tahu bhw kita tidak mungkin dijebak dg cara itu.karena kita masih punya iman dan pemahaman Islam. Maka yang mereka lakukan adalah dengan mengajak kita pada hal-hal yang samar antara halal dan haramnya bahkan mereka pada awalnya mengajak kita pada kebaikan, seolah-olah. tapi sebenarnya ini adalah sarana saja, suatu saat mereka akan menampakan wujud asli tipu dayanya.

mas bisa baca beberapa tulisan saya yang lain, spt ttg tenaga dalam, melihat makhluk halus. dalam 2 artikel tersebut saya jelaskan lebih detil.

Jin itu, sebagaimana iblis punya keinginan untuk mengajak sebanyak-banyaknya manusia agar menjadi pengikutnya. Mereka punya 1001 cara untuk menjebak kita. Dari jebakan yang seolah-olah “positif” sampai yang jelas dan nyata-nyata syirik dan maksiat. Semua jebakan itu tergantung pada manusia yang menjadi targetnya. Jika orang tsb cukup punya iman dan pemahaman maka wujud jebakanya akan sangat halus hingga ia tidak menyadari bahwa hal itu adalah pintu masuk jebakan iblis.

Maka sarana terbaik untuk mengetahui apakah yang sedang kita lakukan adalah jebakan jin atau bukan adalah dengan kembali pada Al Qur’an dan Sunnah, ikutilah petunjuk Al qur’an, petunjuk Nabi SAW, perilaku para sahabat dan para ulama sholih terdahulu. Islam ini agama yang sempurna, Islam diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi kita, maka pasti ada penjelasan terhadap semua hal dalam hidup kita, atau setidaknya panduan atau rambu-rambunya bagi kita. Yang perlu kita lakukan adalah :

  1. berusaha sekuat tenaga mencari kebenaran melalui sumber kebenaran yakni AL Qur’an, hadist, perilaku para sahabat. Bukalah kitab-kitab hadist, bukalah sejarah hidup Nabi Saw dan para sahabat serta para ulama seperti para imam 4 madzhab dll.
  2. bukalah hati dan fikiran kita untuk menerima kebenaran, pasanglah dalam hati kita keraguan terhadap apa yang kita lakukan sekarang sampai kita mendapatkan keyakinan berdasarkan dalil Al Qur’an dan Sunnah. Karena kita akan bertanggung jawab dihadapan Alloh terhadap segala yang kita lakukan. Satu-satunya yang membuat kita selamat adalah melakukan segala hal dengan dasar al Qur’an dan Sunnah.
  3. Singkirkan kepentingan pribadi, membela diri, merasa benar, menutup diri dan berusahalah untuk membuat hati, fikiran dan keyakinan untuk tunduk pada Al Qur’an dan Sunnah. Jika nanti kita mendapati bhw yang apa kita lakukan tidak sesuai dengan Islam, maka ikutilah kebenaran itu, walaupun bertentangan dengan keinginan kita, walaupun berat dan penuh perjuangan.
  4. Sandarkan kebenaran kepada perilaku Nabi saw, bukan orang. Karena ada orang yang tidak mau menerima penjelasan dengan alasan bahwa ulama A begini, atau ulama B begitu. Bukan orang dasar sebuah kebenaran tetapi Nabi saw.

Khusus ttg ilmu gaib dan sejenisnya saya sering menjelaskan dengan mengutip QS. Al An’am ayat 128.

 

Dan (ingatlah) hari diwaktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia”, lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman: “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).” Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Ayat ini sebenarnya mengisyaratkan perilaku sebagian manusia bahwa ada diantara mereka yang bekerja sama dengan bangsa jin. Yakni dengan kalimat Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain).

Saya telah membuka dalam kitab tafsir Ibnu Katsir untuk melihat apa maksud kalimat tersebut. Dan kalimat sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) maksudnya manusia mendapatkan sesuatu dan jin dan jin mendapatkan sesuatu dari manusia. Lebih lanjut, kita mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, hajatkan dan jin itu mendapatkan sesuatu dari kita yakni ketaatan. Ketaatan inilah yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalm kitab tafsirnya, sebagai balasan yang kita berikan untuk jin.

Baik, riilnya begini.

Kita mendapatkan apa yang kita inginkan misalnya pengelaris, kesaktian, kemampuan supranatural dll. Sedangkan yang didapatkan oleh jin itu adalah ketaatan kita berupa ritual yang harus kita lakukan, amal, wirid, puasa dll. Intinya bagi jin itu adalah ketaatanya bukan jenis ketaatannya. Ada bentuk ketaatan yang diminta jin itu berupa hal-hal yang jelas-jelas syirik spt ke dukun, betapa di kuburan dll. Tapi ada pula bentuk ketaatan yang bnetuknya seolah olah ibadah, spt puasa, wirid, menjaga sholat dll. Bagi jin itu yang penting adalah ketaatan kita. Saat kita menjalankan wirid, atau puasa itu maka bagi jin, perbuatan itu adalah bentuk ketaatan kita pada dia. Wirid itu tidak lagi bernilai penghambaan atau ibadah pada Alloh, puasa itu tidak lagi ibadah kepada Alloh, tetapi puasa dan wirid itu adalah wujud ketundukan dan ketaatan kita pada jin itu. Amal-amal itu adalah paket yang diminta oleh jin itu sebagai bentuk ketundukan kita. Disinilah jebakan halus itu. Maka hati-hatilah dengan semua amal yang diajarkan kepada kita, jika tidak ada dalilnya maka hindari sampai benar-benar jelas.

Diantara tanda-tanda mudah untuk mengenali apakah amal itu adalah paket yang diinginkan jin adalah :

  1. Dilakukan dengan niat tertentu yang tidak pernah disebutkan oleh nabi misalnya membaca ayat Qursy dengan tujuan untuk kekebalan, membaca Surah jin dengan niat memanggil raja jin dll. Ini adalah niat yang tidak disebutkan atau dicontohkan. Kita membaca al qur’an untuk meminta kesembuhan, maka boleh karena niat ini dicontohkan oleh NAbi. Kita membaca Al falaq annas pagi dan petang untuk keselamatan, maka boleh, karena Nabi saw yang mencontohkan. Intinya apa yang kita amalkan, adalah contoh dari Nabi.
  2. Dilakukan dengan cara-cara tertentu yang mana cara-cara tsb tidak pernah disebutkan oleh Nabi, misalnya membaca ayat Qursy 7 kali, dan tahan nafas. 7 kali dan tahan nafas ini ada perintah dari Nabi ataukah tidak? Jika ada silahkan pakai, jika tidak maka tinggalkan. Nabi-lah yang berhak membuat aturan ibadah bukan kita juga bukan ulama. Misalnya sebelum tidur kita membaca Tasbih 33x, tahmid 33x dan takbir 34 kali. Siapa yang membuat aturan ini? Nabi-lah yang membuat atauran bahwa tasbih, tahmid dan takbir tersebut dibaca sebelum tidur dan dengan jumlah tertentu. Nabi-lah yang menentukan. Maka jika ada yang mengajari kita sebuah amal dengan cara tertentu maka tanyakan apakah ada dalil berupa contoh atau perintah dari Nabi? Jika ada, silahkan amalkan jika tidak maka tinggalkan.
  3. Biasanya disertai dengan mitos fadhilah atau keutamaan tertentu yang mana keutamaan2 tersebut sebenarnya tidak pernah disebutkan oleh Nabi saw. Misalnya ketika kita membaca ayat Qursy 1 kali menjelang tidur maka fadhilahnya adalah Alloh akan mengutus 1 malaikat untuk menjaga kita. Fadhilah ini disebutkan oelh Nabi, misalnya membaca doa Nabi Yunus maka doa akan mustajab, fadhilah ini Nabi yang menyebutkan. Kita mempercayainya karena yang menyebutkan adalah Nabi saw yang dijamin kebenaranya. Misalnya, membaca wirid tertentu (maaf tidak saya sebutkan) sebanyak 4444 kali maka segala hajat akan terpenuhi. Dari mana aturan 4444 kali itu? Siapa yang telah memberikan jaminan segala hajat kana terpenuhi tersebut? Nabi saw-kah? Jika nabi SAW yang menjamin maka kita pasti menemukanya dalam kitab-kitab hadist. Jika tidak maka tinggalkan-lah karena semua itu bukan dari nabi.

Ketiga hal diatas dalam bahasa Hadist disebut sebagai bid’ah. Dalam kitab-kitab aqidah, amalan bid’ah tertolak, walaupun kita meniatkanya untuk ibadah.

Dalam praktik ruqyah selama ini ada hikmah besar yang saya dapati yakni amal-amal yang tidak ada contoh dari nabi tersebut tidak hanya bernilai bid’ah tetapi amal-amal tersebut adalah jebakan jin, bahkan pintu masuknya jin dalam diri kita, dan keluarga kita.

Baiklah, yang kita bahas diatas adalah sudut pandang dalam aqidah. Yang ingin saya sampaikan berikut ini adalah sudut pandang pengalaman ruqyah.

Amalan, kemampuan ‘supranatural’ sangat erat kaitanya dengan bantuan jin. Para sahabat dan Nabi saw dulu ketika mengobati mereka cukup membaca ayat-ayat al Qur’an spt Al fatihah. Mereka tidak memiliki ilmu khusus. Silahkan buka kitab-kitab hadist maka kita akan mendapati mereka hanya membaca alqur;an saja, tidak lebih dan tidak ada cara tertentu untuk membacanya. Hanya membaca. Mereka bisa seperti itu karena mereka menjaga komitmen pada syariat, menjaga dari hal-hal yang diharamkan sehingga doa mereka diijabah.

Mereka yang pernah saya temui dan memiliki kemampuan gaib pada akhirnya mengalami banyak masalah dalam hidupnya yakni gangguan jin. Gangguan jin itu dialami oleh orang itu sendiri, anak-anaknya, istri dan keluarga terdekatnya.

Gangguan tersebut misalnya, sakit sakitan, migren , kesurupan, anak rewel dan bandel, cerai, istri dan anak susah dinasihati, mudah berselisih pendapat, rumah terasa gerah/panas, tidak ada keharmonisan, sering mimpi buruk, harta menjadi tidak berkah, sesak nafas dll, tipu daya jin saat menjelang kahir kematian, dan lain-lain. Intinya saat seseorang telah melakukan amal-amal tertentu, memiliki kemampuan supranatural dan lain lain, sebenarnya yang terjadi adalah kerjasama dengan bangsa jin. Jin itu telah memberi sesuatu dan suatu saat dia akan meminta balasanya. Dan balasan yang paling sering saya temui terjadi pada pasien ruqyah adalah jin itu akan mengganggu diri dan keluarga orang itu serta jin itu akan ikut dianak keturunannya.

Sungguh, yang saya sampaikan ini benar-benar telah saya temui berulang-ulang kali. Maka bagi siapa saja yang ingin memiliki kemampuan supranatural berpikirlah lagi karena bahayanya sangat nyata, tidak hanya bagi kita tetapi juga bagi anak, istri dan keluarga kita.

Cukupkanlah diri kita dengan menjadi orang biasa yang senantiasa mendalami ilmu agama. Dan bantulah mereka yang membutuhkan bantuan, dengan Al Qur’an. Insya Alloh kita akan lebih bisa merasakan makna tawakkal, kesabaran dan lebih bisa merasakan makna menghambakan diri pada Alloh SWT.

Semoga bermanfaat.

Terapis pengobatan tradisional yang mengusai berbagai macam tehnik pengobatan seperti Ruqyah Syariyyah, Bekam, Akupunktur, Pijat khusus nyeri, Keseleo patah tulang dan Herbal yang sudah berpengalaman.

Tagged with: , ,